Celotehku Pada Sosok Itu

Morning At Lake
Aku terbangun dibawah sayap-sayap hening malam, sementara harapan lenyap terkubur di hati. Malam ini aku ketakutan dan kesepian dalam kebisuan yang mencekam. Saat sang jiwa tak pernah muncul dihadapan wajah hidup, dan waktupun berjalan memenuhi ruang kembaraku dalam dekapan keheningan yang tiada henti. Dan akhirnya kutemukan diriku bagai debu yang siap diterbangkan oleh napas angin.
Waktu berlalu seperti hantu malam, namun malam ini aku tak bisa menyerahkan diriku pada tidur. Mataku masih menerawang pada satu kenangan tentang keindahan yang kenyataannya basah oleh air mata. kurasakan ketentraman dengan pencurahan air mata dalam kesendirian. Kuambil pena mencampur air mata dan tinta diatas kertas putih dan kumulai mencurahkan isi hati.
Duhai jiwa yang telah menguasai misteri ini, aku datang menyerahkan napas kerinduan, ketika hati sesak dengan rahasia hati dan mata mulai pedih dan dadaku serasa mau meledak. Lewat tulisan ini aku kembali mencurahkan perasaanku, ketika luka batin semakin mengiris sementara tubuhku tak bisa berbuat apa-apa terhadapnya.
Duhai jiwa yang mengiringi pengembaraanku, aku tak tahu rahasia esok dan aku juga tak tahu kemana, kapan kutemukan diriku dengan segala kasih dan impian atas nama kesejatian yang hakiki. Sementara aku kehilangan harapanku. Kemana lagi aku harus berjalan?
Duhai jiwa, disini aku merindukanmu, mendamba dan mengharapkan kehadiranmu seperti dulu, seperti yang telah ku yakini dalam hatiku, sebuah cinta yang tidak bisa kuungkap lewat kata namun tersimpan kesejatian sesungguhnya yaitu hanya padamu sahabat jiwaku. Sebuah cinta yang telah melahirkan banyak hal, rahasia yang tak pernah terjembatani dan terjawab, yang menciptakan perenungan diri, keindahan dalam kebisuan, kerinduan dalam kesepian, kesedihan dalam kepedihan, kekecewaan dalam kehampaan yang tersimpan dalam jiwaku. Sampai akhirnya terbesit pertanyaan dalam hati.
“Apakah kau sama merasakan seperti apa yang kurasakan saat ini ?
Duhai jiwaku, aku merasakan kesepian dan kehampaan dalam penantian ini. Sampai akhirnya tertinggal satu kalimat “ mencintaimu adalah derita dan sakit yang tiada obatnya”. Selain kau hadir dalam kesejatian yang abadi.
Tak terasa malam berganti pagi bersama tetesan embun dan sang mentari yang menyinari kamarku. Aku disini masih duduk terpaku dalam keterjagaanku. Aku dapat merasakan seraut wajah lenyap bersama terbitnya matahari. Dan akhirnya aku menyerah pada tidurku, berharap aku bisa menemukan kesejatian dan kedamaian yang hakiki saat ku bangun.***

2 responses

  1. Gi menjana ya? Aq pernah merasakan hal seperti itu, cinta memang aneh…padahal aq tahu dari sikapnya dia kadang membingungkanku tp ttp rasa itu smakin melekat, aq merasakan bahwa bertepuk sebelah tangan terasa perih, tp aq sadar bahwa memang cinta tak harus memiliki, berbahagialah bahwa qt masih memiliki rasa cinta yang suci dan tetap subur apalagi berlimpah waaah..banjir cinta donk..he2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: