Salah Masuk Ruangan

Doors
Saat itu aku sedang tugas shif malam di Rumahsakit, tepatnya di Ruang IGD. Tiba-tiba tepat pukul 02.00 malam aku dikejutkan dengan kedatangan pasien yang membutuhkan pertolongan.
“Pasien itu kenapa ya…” Tanyaku dalam hati.
Ku hampiri mereka di pintu gerbang IGD sambil membawa brankar.
“Tolong Pak, orang ini kena strum! Keluh salah seorang yang mengantarnya pasien.
“Baiklah, silahkan bantu saya naikan dia ke atas brankar ini.” Jawabku tanpa banyak bicara.
Kemudian ku bawa pasien itu menuju ruang pemeriksaan. Setelah berada di ruangan. ku siapkan stetoskop, tensimeter, dan thermometer untuk memeriksa tekanan darah, nadi, suhu dan pernapasannya. Sambil memeriksa aku tanya kejadiannya pada bapak yang berada di sampingnya.
“Kapan kejadiannya pak?”
“Tadi pak? Kurang lebih pukul 01.45 .dia pingsan 10 -15 menit yang lalu.
Dalam hati aku merasa heran kenapa bapak ini malam- malam kesetrum listrik, apa ada yang konslet dengan kabel listrik yang ada dirumahnya? Atau jangan-jangan dia pegawai PLN yang ditugaskan membetulkan listrik yang konsleting karena permintaan pelanggan? Tak kupedulikan perasaanku, karena aku harus melakukan pemeriksaan terhadap pasien itu, setelah 10 menit melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, hasilnya ternyata masih dalam batas normal. Kulanjutkan pemeriksaan daerah yang terkena sengatan listrik, tepatnya di tangan sebelah kirinya, ternyata tak ada bekas luka sediktpun. Tambah penasaran kemudian kucoba bangunkan dengan menggeleng-gelengkan kepala si pasien sambil ku tanya.
“Pak bangun! Ayo pak coba bangun”. Tanyaku sambil terus memegang kepala pasien itu. Tapi tak ada respon sedikitpun dari pasien itu. Sudah berulang-ulang kali kucoba bangunkan tapi tetap tidak ada respon.
“Pak, kira-kira kondisinya gawat tidak?” Tanya pengantar pasien yang menemaninya. .”Emmmhh kayaknya sih ga, soalnya ga ada luka parah dibadannya.” Jawabku menyakinkan.
Dengan penasaran si pengantar pasien kembali bertanya lagi. “Pak, kok ga bangun- bangun ya? Jangan-jangan dia koma soalnya matanya melotot tak bergerak dari tadi”
“Mungkin dia hanya shok aja”. Jawabku singkat. Tak lama kemudian dengan reflek akibat kelamaan membuka mata akhirnya pasien itu berkedip juga.
Dengan perasaan jengkel karena sudah mempermainkanku dengan berpura pura pingsan langsung terbesit ide untuk ngerjain pasien itu. Dengan pura-pura panik, aku ambil buku resep dan aku bohongi dia.
“Pak, pasien ini kayaknya harus di bawa ke ruang ICU cepat-cepat, sekarang kita infuse dulu dan kita masukin obatnya lewat suntikan di pantat,” Tanya aku dengan meyakinkan. Mendengar mau di infuse dan suntik dengan spontan si pasien itu bangun, “Ngga…ngga… Pak, sebenarnya aku sudah sadar dari tadi” jawab si pasien.sambil mengangkat kedua tangannya dan langsung beranjak turun dari tempat tidur. “Ha..ha..ha.. kenapa? takut di suntik ya.”. Tanya si pengantar pasien. Sambil memegang erat tangan pasien. “Duh, ampun! Pak maafin saya! Saya gak mau dirawat, diinfus ataupun disuntik, saya cuma pura-pura pinsan supaya saya ga digebukin warga” Jawab si pasien memohon ampun. “Oke deh, kalau gitu bapak juga salah alamat karena telah membawa maling kerumasakit yang harusnya dibawanya ke kapores.” Jawabku dengan perasaan yang camuraut antara kesal dan pingin ketawa. ***

5 responses

  1. cerita ini di ambil dari pengalaman kakak yang kerja dirumah sakit

  2. Hehe..lucu ya ada maling takut disuntik

  3. @ Sri : yaialah kan maling juga manusia he…
    dalam cerita yang aslinya sebenarnya pelakunya bukan maling tapi pasien
    yang pura-pura sakit aja. wi ramu campur khayalan jadi gini deh ceritanya.

    1. Makasih ya da berkunjung 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: