Cintaku Nodaku

35i327

Malam itu ada kehangatan dari tubuhmu yang membuatku tenang dan bahagia. Aku berharap akan selamanya merasakan hal ini. Pelukanmu dapat melindungiku dari rasa takut dan kesepian, hingga ku terjaga dalam setiap lelap tidur malam. aku merasakan damai saat ini walau ku tahu kedamaian ini tak abadi untuk ku. Aku tak tahu apakah esok dan seterusnya aku masih bisa merasakan kesempurnaan hidup. seperti pagi ini dan kemarin
“Yang aku mau pergi dalam beberapa hari. Jaga dirimu baik-baik selama aku pergi ya.”
Aku diam tanpa banyak kata keluar dari mulutku. Sebenarnya banyak yang ingin ku ungkapkan tuk menahan kepergiannya, tapi aku tak berdaya. Aku hanya bisa menahan rasa sakit hati yang ku telan sendiri. Tiba-tiba satu pertanyaan yang sepontan keluar dari mulutku. “Apakah kau masih mencintaiku?”. Dia berhenti melangkah yang tinggal selangkah lagi menuju pintu halaman. Di lepaskannya tas rangsel yang selalu menemani kemana saja dia pergi, dia berbalik menatapku kemudian memelukku dengan erat. Sepontan air mataku jatuh membasahi pipi tanpa mampu berkata apa-apa.
“Aku sangat mencintaimu, menyayangimu dan mengagumimu. Kau wanita sempurna yang kumiliki. Kau adalah segalanya bagiku, tapi– maafkan aku, sekarang aku harus pergi. Ungkapnya sambil menghapus air mataku.
Aku termenung sendiri setelah melepas kepergiannya. Aku tahu, aku tak berhak menahan dia disini, ada orang lain juga yang membutuhkan dia selain aku. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan tanpa dia. Rumah ini terasa sesak untuk ku bernapas, terlalu banyak kenangan manis yang bisa mengundang air mata jika ku tetap berada disini. Aku harus pergi kemana sekarang? Aku butuh orang yang bisa menghiburku dikala sendiri seperti ini. Biasanya kalau orang lain lagi di landa kesepian dia bakal pulang kerumah orangtuanya atau mencari sahabatnya tuk mengeluh. Tapi aku bingung meski mengeluh pada siapa? Tak mungkin rasanya aku mengeluh pada orangtuaku aku takut mereka…..
Di tempat tinggalku yang baru kuhuni sekitar 2 bulan ini, aku belum bisa akrab dengan tetanggaku. Bukan berarti aku tak mau berteman dengan mereka, tapi kesibukan kerja dari pagi sampai sore kadang sering membuatku lelah pingin cepat istirahat di kamar sehingga jarang keluar rumah. Di tempat ini yang kukenal hanya satu orang selain suamiku yaitu si bibi tukang cuci, itupun ketemunya tiga hari sekali kalau cucian sudah menumpuk.
***
“Ibu tak setuju jika kamu meninggalkan Roni demi Beni. Ibu ingin kamu akhiri cinta terlarang ini. cukup kemarin kau coreng muka Ibu di hadapan Roni dan keluarganya. Jangan sampai kau membuat kesalahan lagi dengan merebut Beni yang masih berstatus suami orang.” Ujar Ibu pada sebuah malam empat tahun yang lalu.
Kata-kata itu tiba-tiba menggema dalam telingaku. Ibu– maafkan semua kesalahanku. Aku yang telah kau besarkan dengan penuh kasih sayang telah secara terang-terangan menentangmu dan tak mempedulikan setiap perkataanmu. Aku sadar sekarang, pernikahan tanpa restumu ini kini membuatku tak bahagia.
Terus terang awalnya aku bahagia, aku merasa sempurna memiliki Beni, bukah hanya dari segi sikap dan perhatiannya, tapi lebih dari itu aku juga bisa merasakan nikmatnya– hubungan suami istri. Ini pengalaman keduaku dalam pernikahan tapi seperti pengalaman baru menikah. Entahlah aku seperti tersihir oleh kekuatan gelap hingga aku lupa semuanya.
Dua tahun sudah ku bina rumah tangga dengan Roni, selama itulah aku sering merasakan kesepian akibat sering di tinggal berlayar oleh Roni. Padahal bisa dibilang dulu Roni adalah cinta pertama ku, makanya pada saat Roni melamarku aku langsung mererimanya. Tepatnya lima bulan setelah menikah, aku ditinggal lagi oleh Roni, dia harus kembali kerja, kapal Tangker tempat dia bekerja sudah memanggilnya tuk berlayar. Awalnya aku tidak mengijinkan Roni berlayar lagi dengan alsan aku tak mau ditinggal sendiri. Tapi sebuah alasan yang kuat demi masa depan akhirnya akupun mengijinkannya. Pendeknya setahun aku bisa bertahan jauh dengan Roni, itupun karena kesibukan kerjaku dan keberadaanku yang tinggal serumah dengan orangtua. Tapi seiring waktu berlalu aku dimutasikan kerja ke sebuah kota kecil. Dengan terpaksa aku harus tinggal sendiri di tempat kerja yang baru. Di tempat ini lah aku mulai merasakan kehilangan semua orang yang kusayangi, tidak hanya ragaku yang merasa kesepian tetapi batinku juga merasakan haus akan sentuhan kekasih yang selalu menemani malam-malamku.
Pada sebuah sore selesai pekerjaan di kantor, aku seperti disihir Beni. Di hotel bintang 2 yang sejuk dan dingin dari kaki gunung Gede dalam suasana romantis aku menyerahkan segala kehormatanku pada Beni. One night stand aku lupa statusku pokonya aku lupa segalanya, mungkin begitupun juga Beni lupa segalanya sama seperti aku. Di kamar berukuran 3×4 meter itu aku merasakan kedamaian dalam kenikmatan yang selama ini tak tersentuh. Beni sosok laki-laki sempurna yang bisa membuat ku bahagia malam itu.
Tiba-tiba lamunanku terhenti ketika Beni memelukku dari belakang sambil mengucapkan “Apakah kau bahagia bersamaku?” Aku diam tanpa sepatah kata keluar dari mulutku. Satu jawaban yang mewakili apa yang kurasakan saat bersamanya yaitu dengan satu kali anggukan. Is– Aku merasa damai berada di dekat mu, aku sayang kamu sejak pertama kali melihat mu di perpustakaan kampus delapan tahun yang lalu., waktu aku lagi cari bahan buat sekripsi. Aku pernah duduk berhadapan denganmu, aku memperhatikan kau sedang asik membaca Drama Macketh Shakespeare, Namun ketika ku hendak berkenalan, kau bergegas pergi keluar bersama temanmu. Semenjak itu aku berharap aku bisa bertemu lagi, berkenalan dan bisa dekat denganmu, namun kesempatan itu selalu gagal ku raih. Susah juga berkenalan dengan mu karena kita jarang bertemu dan kita beda Fakultas dan jurusan. Wajahmu yang menawan membuatku penasaran dan menjadi bagian dari perjalanan cintaku. Selama ini aku mencarimu sekedar ingin mewujudkan perasaan yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan mungkin inilah yang dinamakan jodoh, dalam hitungan waktu yang cukup lama akhirnya aku menemukanmu disini. Kamu sendiri yang datang menghampiri dan sekarang menjadi patner kerjaku. Aku adalah orang pertama yang bahagia karena bisa melihatmu ditempat ini. Wajahmu tak berubah masih tetap cantik cuma penampilan aja yang berubah. Dulu penampilanu gaul dengan pakaian yang umumnya sering di pakai oleh anak kuliahan. Tapi sekarang penampilan mu anggun dengan pakaian formal tuk kerja.
Aku diam mendengar kata manis yang keluar dari mulut Beni. Seolah tak percaya dengan apa yang diucapkannya. Semua di luar dugaan aku di puja oleh pengagum rahasia.
Kalaupun akhirnya aku mau dinikahi oleh Beni, bukan semata-mata aku mencintainya, sedikitpun awalnya aku tak mencintainya. Aku hanya simpati padanya. Perlakuan istrinya yang selalu otoriter dan possessive membuat ku simpati padanya. Pernikahan yang dilangsungkan selama ini dengan istrinya semata-mata Bemi menutupi aib atas kesalahan yang pernah dia lakukan pada sebuah malam sehabis nonton film drama yang ada adengan seknya di bioskop. Tiba-tiba ada getaran kuat yang memaksa Beni mencumbu Sita dan akhirnya Sita pun seperti terhipnotis menyerahkan kehormatannya pada Beni. Sita memang sudah lama suka sama Beni namun sikap Beni yang cuek pada semua wanita baik di lingkungan dia tinggal ataupun tempat dia bekerja membuat Sita tak berani mengungkapkan perasaannya. Hingga seperti sebuah kesempatan baik bagi Sita ketika dia meminta Sita tuk jadi kekasih bohongan saat orangtua Beni datang mengunjunginya. Maklumlah akhir-akhir ini orang tua Beni sering memaksanya tuk segera menikah dengan alasan ingin cepat menggendong cucu. Sebagai tanda terimakasihnya pada Sita akhirmya Beni mengajak Sita nonton Film bioskop.
Dari awal pernikahan sampai sekarang, aku belum pernah merasakan bahagia secara lahir batin. Andai aku sering melakukan hubungan suami istri, itu bukan karena nafsu sahwatku melebihi karena kewajibanku. Aku takut berdosa jika aku tak memberikan nafkah lahir batin.
***
Hari-hari berlalu lewat begitu cepat, semakin banyak waktu yang kulewati bersama Beni. di kantor dan sepulang kerja. Aku dapat merasakan kebahagiaan dalam cinta terarang ini. sampai akhirnya tanpa dukungan dari kedua orang tua, aku dan Beni tetap bersih keras tuk menikah. Aku sadar keputusanku tuk hidup bersama Beni, banyak menyakitkan perasaan banyak orang, terutama suamiku dan keluargaku. Tapi aku tak peduli dengan segala caci maki dan resiko besar yang akan ku hadapi. Asal bisa bersama Beni akan ku hadapi semuanya dengan lapang dada. Sepeti badai belalu perceraianku pun berlangsung lancer bersama Roni beitupun perceraian Sita bersama Beni.
Empat tahun sudah kurasakan kebahagiaan hidup bersama Beni selama itu pula karirku dan Beni naik seperti ku percaya cinta bisa membuat hidup seseorang itu berhasil walaupun perjalanannya penuh resiko besar dan tantangan. Seperti itulah yang kualami bersama Beni, walaupun awalnya terarang tapi akhirnya aku bahagia. Tapi aku salah menafsirkan kata AKHIR itu. Ternyata perjalanan cintaku ini belum berakhir masih dalam perkenalan dengan komplik yang berbeda-beda dan baru bisa berakhir.
Seperti halilitar menyambar hidupku ketika Beni meminta ijin untuk rujuk lagi pada Sita istri pertamanya. Pahit sungguh kenyataan ini, tapi aku tak bisa melarangnya, karena aku sadar sampai saat ini aku belum bisa memberikan seorang anak padanya.
“Ketahuilah Is aku mau kembali rujuk dengan Sita bukan berarti aku sudah tak sayang lagi padamu, tapi karena tak mau anakku menjadi anak yang broken home kurang kasih sayang orang tua.” Ungkap Beni memyakinkan ku.
Malam ini langit cerah bertaburan bintang, tak seperti biasa aku berdiri dekat jendela sambil memandang bintang bulan yang bersinar di atas langit. Aku merasa hampa, ternyata aku tak rela, aku sakit hati setiap dia pergi. Ya Tuhan kenapa nasibku seperti ini, sampai kapan aku harus begini, keluhku dalam hati. Sesaat kemudian Ibu datang menghampiri, dengan tatapan penuh kasih ia menatapku dalam-dalam dan berkata lirih.
“Ibu tahu kamu lagi sedih, meski kau tutupi dengan keceriahan semenjak kau datang. Ceritakan pada Ibu, ada masalah apa antara kau dan suamimu. Kemana Beni, kenapa tak mengantarkan kamu?” Ungkap ibu sambil membelai rambutku.
Mendengar perkataan semacam itu, kontan air mataku jatuh tak terbendung lagi. Seketika itu pula aku bersujud di kaki Ibu. “Maafkan aku Bu, aku tak pernah menuruti setiap perkataanmu, aku selalu mengabaikan nasehatmu dan bikin telah malu keluarga. Ternyata cinta terlarang yang ku pertahankan ini, kini membuatku sakit hati berkepanjangan. Sesaat kemudian Ibu membungkukan badan meraih diriku yang sujud dikakinya.
“Sudahlah, ibu sudah memaafkan semua kesalahanmu. Ibu tahu kau sangat mencintai dia melebihi segala apapun. Tapi perlu kau ingat ada Tuhanlah yang lebih berhak mengataur segalanya. Menurut ibu kamu belum terlambat jika kamu ingin kelur dari belenggu ini. mengalahlah, biarkan Beni hidup bahagia bersama istri dan anaknya.
Terus terang malam ini aku merasa tenang telah memuntahkan semua rahasia yang selama ini ku pendam sendiri, saat di peluk ibu aku merasa seperti anak kecil yang mendapat perlindungan dan kehangatan cinta. Ternyata kedamaian dan ketenangan abadi itu ada didalam cinta ibu. ***

PS: cerita ini terinspirasi dari kisah teman.

2 responses

  1. Ibu selalu mengerti anaknya 🙂

    nice story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: