Mutiara Retak

petir
Malam yang dingin dari Punggung Tangkuban Perahu, menyapu segenap penjuru kota yang sedang terlelap tidur. Sementara aku tebangun di tengah malam yang sunyi. Kutatap sesuatu yang tak terlihat di langit-langit kamarku. Tiba-tiba anganku melayang dalam hening malam yang kian mencekam. Dalam kesunyian suara hatiku terisak menangis seperti menggenggam luka jiwa yang penuh penyesalan.
“Ya Allah, hamba mohon ampun atas semua kesalahan yang telah hamba lakukan.” Rintihku bersujud.
“Begitu banyak dosa yang telah hamba lakukan kepadamu juga kepada orangtuaku, hamba telah melalaikan kepercayaanmu selama ini.
“Wahai penggenggam segala jiwa, ampunilah segala dosa-dosaku!”
Malam telah menunjukkan pukul 01.00 pagi, tetapi rasa kantuk di mataku masih terendam oleh perasaan galau yang mendera.
“Ya Robbi penguasaku, sekarang ini aku membutuhkan tempat berlindung, tempat yang bisa membiarkan kepala dan pikiranku beristirahat. Tolong berikan petunjukmu!” Desakku dalam rintih.
Tak terasa pagi telah terurai sempurna saat fajar datang menyinari jendela kamarku. Ini hari terakhir keberadaanku di kota ini, setelah lima tahun ku tinggalkan kota kelahiranku demi menuntut ilmu dan mewujudkan cita-cita di salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di Bandung.
Dengan berat hati, ku tinggalkan kota Bandung dengan Bis yang membawaku ke Pelabuhan Tanjung Priuk Jakarta. Sepanjang jalan kupandangi setiap daerah yang pernah ku singgahi sebagai salam perpisahan. Tak terasa empat jam lebih aku duduk dalam Bis, akhirnya sampai juga di Terminal Tanjung Priuk Jakarta. Aku turun dari Bis dan memasuki kawasan Pelabuhan Tanjung Priuk. Kunaiki tangga kapal dan duduk di tempat duduk yang menghadap ke laut. Kapal beranjak pergi meninggalkan pelabuhan, namun jiwaku masih keluh mengingat setumpuk kenangan yang pernah kualami selama ini. Ditengah lautan biru tiba-tiba pikiranku melayang pada seseorang yang telah menjadi bagian dalam hidupku.
“Krisna maafkan aku, aku tak bisa hidup seperti ini karena semua ini menyakitkan.”
“Krisna, sebenarnya kehadiranmu sangat berarti bagi ku, kau adalah separuh nafasku. Tapi kenapa secepat ini kau pergi? kau tinggalkan aku sendiri dengan luka hati yang terdalam.”
“Kris, andai saja dulu aku tak membiarkanmu pergi, mungkin saat ini kau ada bersamaku. Dan akan kuperkenalkan dirimu pada orangtuaku sebagai calon suamiku.” ***
Krisna adalah pria yang telah memikat hatiku saat pertama aku masuk kuliah. Kebaikan, solidaritas dan perhatiannya, selama ini telah meluluhkan kebencianku pada seorang pria yang pernah menyakitiku. Di tambah dengan perilakunya yang baik, pendiam, romantis dan ga pernah neko-neko telah menimbulkan benih-benih cinta di hatiku.
Waktu berlalu tak terasa satu semester telah kulalui, begitupun kebersamaanku dengannya. Dalam suasana hening menjelang pelajaran dimulai, tiba-tiba diriku dikagetkan oleh sepucuk surat yang terselip dalam buku paket yang akan kupelajari.
Teruntuk teman yang sangat ku sayangi
Kutulis sepucuk surat untukmu disaat bulan purnama menerangi malam dan jangkrik yang bernyanyi menemani kegalauan hatiku.
Din, tak ada setetes rindu yang kutanam untuk mu. Selama ini telah kuabdikan jiwa dan ragaku hanya untuk memujamu dan menyayangimu. Kebersamaan telah menimbulkan rasa sayangku padamu, sampai aku tak sanggup lagi menahan rasa ini. Din, Aku sangat mencintaimu, bersediakah kau menjadi kekasih ku?
Maafkan aku jika perkataanku ini lancang, namun kuharap kau dapat mengerti maksud hatiku dan menjawab semua ini dengan tulus.
Pengagummu
-Krisna-

Dengan perasaan bahagia, tiba-tiba air mataku membasahi pipi.
“Terima kasih Tuhan, akhirnya kau jawab keraguan ini dengan sepucuk surat yang telah lama kunanti, cintaku kini terjawab semua.” Keluhku dalam hati.
Setahun berlalu kebersamaan dan kamipun semakin dekat. Krisna selalu menemani aktivitasku di kampus dan dimanapun aku berada, Krisna selalu ada saat kubutuhkan. Kehadirannya kini membuatku tenang dan damai, hingga pada suatu malam aku terbuai dalam belaian cintanya dan kurelakan mahkotaku direnggut olehnya. Malam penuh bintang telah menjadi saksi bisu aku berada dalam pelukannya. Tak terasa air mata membasahi pipi saat ku sadar dengan apa yang telah kulakukan.
“Dinda, maafkan aku, aku khilaf melihat kecantikan dan keindahan tubuhmu, aku sangat mencintaimu, aku akan bertanggung jawab atas semua ini,” Keluh Krisna sambil mengecup keningku dan memeluk tubuhku dengan erat. ***
Seperti badai yang menghancurkan batu karang saat ku dengar permohonan Krisna agar aku masuk agama Kristen yang dianutnya. Tak pernah terlintas di benakku, kekasih yang kudamba ini seorang nasrani. Aku berlutut menghadap kiblat memohon ampun atas semua dosa yang pernah kulakukan, dengan perasaan kacau ku berkata.
“Aku telah berbuat dosa melakukan hubungan terlarang bersamamu, aku tak ingin mengulang dosa yang lebih besar dengan masuk agamamu hanya untuk menjadi pendampingmu.” Ungkapku pada Krisna.
Tak lama kemudian Krisna pergi tanpa sepatah kata terucap dari bibirnya. Sementara sakit di hati dan kesedihan mengguncang jiwaku. Dalam suasana sedih, tiba-tiba seorang pria muda menghampiriku membawa kabar bahwa Krisna telah meninggal karena kecelakaan di Jl. Dr.Setiabudi. aku tersentak kaget mendengar kabar itu. Selurh badanku lemas dan jantungku serasa berhenti ketika mendengarnya. Kuhampiri Krisna yang kini berbaring berlumuran darah di muka dan seluruh badannya dan kutatap mukanya untuk yang terahkir kalinya. Tak terhitung air mata jatuh menghiasi pipiku, tangis sedih, pilu temani diriku.
Dalam suasana terharu, setelah beberapa hari kepergian Krisna, tiba-tiba aku mendengar suara yang memangil namaku dari belakang. Ketika hampiri ternyata dia lelaki yang membawa kabar tentang kematian Krisna kemudian membawaku ke Rumah Sakit untuk menemui Krisna yang terahirkalinya.
“Din aku Doni teman Krisna, maaf kemarin aku belum sempat bercerita. Sebenarnya sebelum terjadi kecelakaan Krisna sempat mampir ke rumahku menitipkan surat ini tuk di berikan padamu. Ungkap Doni sambil memberikan suratnya.
Kusobek ujung amplop yang berwarna hijau muda, ku buka dan mulai kubaca.
Dinda kekasihku……
Maafkan aku telah menyakitimu dan telah membohongi tentang agama yang kuanut. Din, aku sangat mencintaimu dan aku tak ingin kehilanganmu selamanya. Tadinya aku ingin abdikan hidupku masuk agamamu dan hidup bersamamu. Namun belenggu yang kuat dari keluargaku pasti akan memisahkan kita. Din, aku tak ingin menyakitimu terlalu dalam juga menyakiti orangtuaku yang telah membesarkanku. Mungkin kematian ini yang membuatmu dan diriku menjadi tenang. Din aku sangat mencintaimu, dan semua ini kulakukan untuk jalan terbaik bagi kita semua.
Cinta sejatimu
-Krisna-

Lama aku terdiam, terbuai dalam kenangan masa lalu. Angin dingin telah menyadarkanku betapa banyak noda yang kutorehkan dalam jiwaku. Aku masih tak mengerti apakah kematian Krisna merupakan takdir yang harus kuterima? Atau kah aku harus menyalahkan diriku sendiri atas kejadian itu. Tiba-tiba sirine kapal berbunyi, pertanda kapal akan merapat di pelabuhan Makassar. Aku kembali melanjutkan perjalanan dan meninggalkan setumpuk kenangan dan menutup lembaran cerita dua tahun yang lalu. ***

PS :Diambil dari kisah teman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: