Celoteh Tentang Mu

celoteh tentangmu

Aku terbangun dibawah sayap-sayap hening malam, sementara harapan lenyap terkubur seiring waktu. Malam ini aku merasakan kesepian dalam seribu rindu yang mendalam. Merindukan sang jiwa tak pernah muncul lagi dihadapan wajah hidup, dan waktupun berjalan memenuhi ruang kembaraku dan kini aku berada dalam dekapan keheningan yang mencekam. Dan akhirnya kutemukan diriku bagai debu yang siap diterbangkan oleh napas angin.

Waktu berlalu seperti hantu malam, namun malam ini aku tak bisa menutup mataku. Anganku masih menerawang pada satu kenangan indah yang kenyataannya basah oleh air mata. Sebuah kenangan tentang separuh jiwaku yang pergi dan takan kembali. Kuambil leptop dan kumulai mencurahkan isi hati diiringi tangis yang tak bisa ku bendung lagi.

Duhai jiwa yang telah menguasai misteri ini, aku datang menyerahkan napas kerinduan, ketika hati sesak, mata mulai pedih dan dadaku serasa mau meledak. Lewat tulisan ini aku kembali mencurahkan perasaanku, ketika luka batin semakin mengiris sementara tubuhku tak bisa berbuat apa-apa terhadapnya.

Duhai jiwa yang pernah mewarnai perjalananku, aku merindukanmu, rindu akan kebersamaan, canda tawa, tangis bahagia dan kehangatanmu yang selalu berada di sampingku. Dimanakah kau berada sang jiwa yang selalu membuatku tersenyum bahagia. Sang Jiwa yang membuatku nyaman berada disampingnya, sang Jiwa yang membuatku kuat bertahan dan bersabar menghadapi kerasnya perjalanan kehidupan. Sang Jiwa yang tulus mencintaiku dan rela mati untukku.

Duhai Jiwa yang mengiringi pengembaraanku dalam kejauhan, aku tak tahu rahasia esok dan aku juga tak tahu kemana, kapan akan kutemukan lagi sosok jiwa yang bisa memberikuketulusan atas nama cinta lagi. Sementara aku kehilangan harapan dan impian. Kemana lagi aku harus berjalan agar ku bisa menemukan kesejatian atas kehendak Mu?

Duhai jiwa, disini aku merindukanmu, mendamba dan mengharapkan kehadiranmu seperti dulu, seperti yang telah ku yakini dalam hati, sebuah cinta yang tidak bisa kuungkap lewat kata namun tersimpan kesejatian sesungguhnya yaitu hanya padamu belahan jiwaku. Sebuah cinta yang telah melahirkan banyak hal, yang menciptakan pertemuan yang singkat namun penuh warna, yang kini melahirkan kerinduanku dalam kesepian, kesedihan, kepedihan, kehampaan yang tersimpan dalam jiwaku. Sampai akhirnya terbesit pertanyaan dalam hati.

“Apakah kau sama merasakan seperti apa yang kurasakan saat ini ?”

“Apakah harus kutinggalkan setumpuk kenangan tentang dirimu?”

Duhai jiwaku, aku merasakan kesepian dan kehampaan seperti ini. Sampai akhirnya tertinggal satu kalimat “ cintamu adalah anugrah yang pernah ku miliki, walaupun semua berjalan serba singkat.

Tak terasa malam berganti pagi bersama tetesan embun dan sang mentari yang menyinari kamarku. Aku disini masih duduk terpaku dalam keterjagaanku. Aku dapat merasakan seraut wajah lenyap bersama terbitnya matahari. Dan akhirnya aku menyerah pada tidurku, berharap aku bisa bertemu dalam mimpi.***

 

 

 

Sukabumi, Juni 2013

4 responses

  1. curhatan hati yang jujur dari gadis di puncak malam. dengan doa yang khusyuk insya Alloh terkabul.

    1. makasih ya, selam kenal🙂

      1. salam kenal juga dari winterwing. malam-malam begini kok belum tidur?

  2. belum ga bisa tidur sl suasananya ga enak bukan di rumah sendiri🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: