Seperti Mati Kurasa

Seperti Mati Kurasa

Keramaian ini benar-benar membuat dadaku sesak! Aku hanya bisa mengamati sekelilingku! Sementara tubuhku tak mampu kugerakkan!

Aw…..! Kutolehkan kepalaku ke arah kanan dan kau ingin tahu apa yang terjadi?!
Aku melihat sebuah pengorbanan seseorang yang mengejar cinta sejati, sebuah pemandangan indah tapi mengerikan untuk hatiku, dan aku hanya bisa diam membisu dan terpaku seperti sebuah paku yang ditancapkan sangat dalam! Dalam sekali, hingga ku tak sanggup bernapas!

Aw…..! Apa ini? Hatiku seperti tersayat sembilu. Keindahan pemandangan itu bagaikan pisau yang menusuk jantungku yang selalu terkoyak dalam. Seribu satu pisau yang terus menusukku setiap hari tanpa dia sadari. Aku hancur. Ternyata kata-katamu tak bisa kudefinisikan dengan kamusku.

Klik!
“Aku mengenalnya” teriakku dalam hati. Dia yang selama ini bersamaku, ternyata dia tidak pernah tahu seberapa besar pengorbananku untuk membuatnya bahagia.
Ku berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari bayangannya. Aku tak mau terkurung dalam imajinasinya. Aku tak mau mengikuti kemana dia pergi. Aku tak mau ikut menciptakan jejak langkahnya. Kucoba dan kucoba lagi untuk lepas dari bayanganya indah yang sangat mengagumkan namun membuatku sesak nafas.

“Aw……..!” Aku berteriak sekeras-kerasnya.
Dengan tak terduga akhirnya aku lepas dari bayangannya, walau tubuhku terhempas ke tempat yang kontras dengan yang semula. Gelap tak kulihat lentera atau kunang-kunang mengiringi jalanku. Hanya terdengar senandung kidung sunyi yang tak karuan dari sudut jalan sana. Dengan penasaran kakiku melangkah kesana. Ku lihat batinku berkata: “Aku kecewa, terluka tapi aku hanya bisa menelan ludah”. Kusadari tubuhku dikerumuni ulat-ulat menjijikkan!. Dan kubiarkan ulat-ulat itu menggerogoti tubuhku yang kadang sesekali aku mengusir ulat-ulat itu sambil berkata aku tak rela!

Klik!
Kusentuh lagi bayangannya, akan tetapi kali ini aku seperti seseorang yang ingin menangkap angin. Tidak ku lihat tanda-tanda kehadiranmu. Hanya terdengar suara tangis dari kejauhan.
“Dia telah pergi, dia telah pergi,” hatiku berulang mengatakan itu.
Aku menyadari semua itu. Ya, aku bisa menyadari ini.
Tidak! Aku sama sekali tidak bisa menyadari apa yang terjadi selama ini sebenarnya. Tidak. Aku menyadarinya. Air mataku semakin deras jatuh tanpa ujung. Air mata ini tidak punya tempat mendarat meski kucoba menyediakan tempat mendarat. Telapak tanganku pun ditembusnya ****

By: DSK (www.desudjia.wordpress.com)

2 responses

  1. Keyeeeeennnn…. !!!!

  2. @ibesz: ni hanya sekedar celotehku aja yang sedang sensi …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: