Category Archives: Cerpen

Catatan Hening

Catatan Hening Sendiri Syfa duduk termenung diantara deretan tiga kursi kosong yang hanya ditemani segelas mocafloat yang es creamnya sudah meleleh karena dari tadi dibiarkannya mencair. Tak biasanya seraut wajah cantik dan periang itu dilanda kegalauan seorang diri. Sore itu langit berwarna kelabu yang menandakan akan turun hujan, namun dia masih asik dengan lamunanya yang entah apa yang sedang dipikirkanya. Beberapa lagu sendu yang di putar di cafe itu silih berganti seolah dia betah bertahan dan hanyut dalam alunan lagu. Continue reading →

Bahagia

Pagi itu matahari belum muncul namun sosok lelaki itu sudah mulai mempersiapkan barang barang yang akan di bawa untuk pergi. Hari yang sudah lama dia tunggu hari libur yang merupakan hari paling bahagia baginya, Karena di hari libur dia bisa menghabiskan waktu berkumpul bersama ketiga anaknya. Namun berbeda dengan pagi ini, pagi ini pagi yg spesial baginya. Karena di pagi ini dia bisa menikmati liburan tidak hanya dengan ke tiga anaknya tapi jg dengan istrinya dalam acara tour ke dunia pantasi. Dengan senyum bahagia dan semangat dia mereka berangkat menuju Dupan.  Tempat yang sudah sangat lama tak pernah dia kunjungi lagi.
Ada satu moment ketika dia menaiki salah satu arena permainan ontang anting, tib-tiba dia teringat sosok istrinya yg sudah meninggal. Tempat ini dulu pernah jadi saksi tetika cinta terucap pertama kali.
Kini tempat ini dia kunjungi lagi saat bersama ke tiga anaknya n istri barunya.
Banyak kenangan2 melintas d benaknya namun dia hanya diam sejenak kemudian memudar lagi ketika anaknya memanggil memintanya menemani setiap permainan.
Ada kebahagiaan yg sebelumnya tak pernah di bayangkan. Saat istirahat makan tiba2 kupon doorprise yg dia ambil membawa keberuntungan. Dia mendapatkan sepeda motor dan istrinya mendapatkan sebuah lemari es.
Kini kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya saat dia pulang.
Daham sujudnya dia berkata”Tuhan terimakasih atas nikmat yang kau berikan padaku hari ini”

image

Seperti Mati Kurasa

Seperti Mati Kurasa

Keramaian ini benar-benar membuat dadaku sesak! Aku hanya bisa mengamati sekelilingku! Sementara tubuhku tak mampu kugerakkan!

Aw…..! Kutolehkan kepalaku ke arah kanan dan kau ingin tahu apa yang terjadi?!
Aku melihat sebuah pengorbanan seseorang yang mengejar cinta sejati, sebuah pemandangan indah tapi mengerikan untuk hatiku, dan aku hanya bisa diam membisu dan terpaku seperti sebuah paku yang ditancapkan sangat dalam! Dalam sekali, hingga ku tak sanggup bernapas!

Aw…..! Apa ini? Hatiku seperti tersayat sembilu. Keindahan pemandangan itu bagaikan pisau yang menusuk jantungku yang selalu terkoyak dalam. Seribu satu pisau yang terus menusukku setiap hari tanpa dia sadari. Aku hancur. Ternyata kata-katamu tak bisa kudefinisikan dengan kamusku.

Klik!
“Aku mengenalnya” teriakku dalam hati. Dia yang selama ini bersamaku, ternyata dia tidak pernah tahu seberapa besar pengorbananku untuk membuatnya bahagia.
Ku berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari bayangannya. Aku tak mau terkurung dalam imajinasinya. Aku tak mau mengikuti kemana dia pergi. Aku tak mau ikut menciptakan jejak langkahnya. Kucoba dan kucoba lagi untuk lepas dari bayanganya indah yang sangat mengagumkan namun membuatku sesak nafas.

“Aw……..!” Aku berteriak sekeras-kerasnya.
Dengan tak terduga akhirnya aku lepas dari bayangannya, walau tubuhku terhempas ke tempat yang kontras dengan yang semula. Gelap tak kulihat lentera atau kunang-kunang mengiringi jalanku. Hanya terdengar senandung kidung sunyi yang tak karuan dari sudut jalan sana. Dengan penasaran kakiku melangkah kesana. Ku lihat batinku berkata: “Aku kecewa, terluka tapi aku hanya bisa menelan ludah”. Kusadari tubuhku dikerumuni ulat-ulat menjijikkan!. Dan kubiarkan ulat-ulat itu menggerogoti tubuhku yang kadang sesekali aku mengusir ulat-ulat itu sambil berkata aku tak rela!

Klik!
Kusentuh lagi bayangannya, akan tetapi kali ini aku seperti seseorang yang ingin menangkap angin. Tidak ku lihat tanda-tanda kehadiranmu. Hanya terdengar suara tangis dari kejauhan.
“Dia telah pergi, dia telah pergi,” hatiku berulang mengatakan itu.
Aku menyadari semua itu. Ya, aku bisa menyadari ini.
Tidak! Aku sama sekali tidak bisa menyadari apa yang terjadi selama ini sebenarnya. Tidak. Aku menyadarinya. Air mataku semakin deras jatuh tanpa ujung. Air mata ini tidak punya tempat mendarat meski kucoba menyediakan tempat mendarat. Telapak tanganku pun ditembusnya ****

By: DSK (www.desudjia.wordpress.com) Continue reading →

Celoteh Tentang Mu

celoteh tentangmu

Aku terbangun dibawah sayap-sayap hening malam, sementara harapan lenyap terkubur seiring waktu. Malam ini aku merasakan kesepian dalam seribu rindu yang mendalam. Merindukan sang jiwa tak pernah muncul lagi dihadapan wajah hidup, dan waktupun berjalan memenuhi ruang kembaraku dan kini aku berada dalam dekapan keheningan yang mencekam. Dan akhirnya kutemukan diriku bagai debu yang siap diterbangkan oleh napas angin.

Waktu berlalu seperti hantu malam, namun malam ini aku tak bisa menutup mataku. Anganku masih menerawang pada satu kenangan indah yang kenyataannya basah oleh air mata. Sebuah kenangan tentang separuh jiwaku yang pergi dan takan kembali. Kuambil leptop dan kumulai mencurahkan isi hati diiringi tangis yang tak bisa ku bendung lagi.

Duhai jiwa yang telah menguasai misteri ini, aku datang menyerahkan napas kerinduan, ketika hati sesak, mata mulai pedih dan dadaku serasa mau meledak. Lewat tulisan ini aku kembali mencurahkan perasaanku, ketika luka batin semakin mengiris sementara tubuhku tak bisa berbuat apa-apa terhadapnya.

Duhai jiwa yang pernah mewarnai perjalananku, aku merindukanmu, rindu akan kebersamaan, canda tawa, tangis bahagia dan kehangatanmu yang selalu berada di sampingku. Dimanakah kau berada sang jiwa yang selalu membuatku tersenyum bahagia. Sang Jiwa yang membuatku nyaman berada disampingnya, sang Jiwa yang membuatku kuat bertahan dan bersabar menghadapi kerasnya perjalanan kehidupan. Sang Jiwa yang tulus mencintaiku dan rela mati untukku.

Duhai Jiwa yang mengiringi pengembaraanku dalam kejauhan, aku tak tahu rahasia esok dan aku juga tak tahu kemana, kapan akan kutemukan lagi sosok jiwa yang bisa memberikuketulusan atas nama cinta lagi. Sementara aku kehilangan harapan dan impian. Kemana lagi aku harus berjalan agar ku bisa menemukan kesejatian atas kehendak Mu?

Duhai jiwa, disini aku merindukanmu, mendamba dan mengharapkan kehadiranmu seperti dulu, seperti yang telah ku yakini dalam hati, sebuah cinta yang tidak bisa kuungkap lewat kata namun tersimpan kesejatian sesungguhnya yaitu hanya padamu belahan jiwaku. Sebuah cinta yang telah melahirkan banyak hal, yang menciptakan pertemuan yang singkat namun penuh warna, yang kini melahirkan kerinduanku dalam kesepian, kesedihan, kepedihan, kehampaan yang tersimpan dalam jiwaku. Sampai akhirnya terbesit pertanyaan dalam hati.

“Apakah kau sama merasakan seperti apa yang kurasakan saat ini ?”

“Apakah harus kutinggalkan setumpuk kenangan tentang dirimu?”

Duhai jiwaku, aku merasakan kesepian dan kehampaan seperti ini. Sampai akhirnya tertinggal satu kalimat “ cintamu adalah anugrah yang pernah ku miliki, walaupun semua berjalan serba singkat.

Tak terasa malam berganti pagi bersama tetesan embun dan sang mentari yang menyinari kamarku. Aku disini masih duduk terpaku dalam keterjagaanku. Aku dapat merasakan seraut wajah lenyap bersama terbitnya matahari. Dan akhirnya aku menyerah pada tidurku, berharap aku bisa bertemu dalam mimpi.***

 

 

 

Sukabumi, Juni 2013

Cinta Sejati Lelaki Biasa

cinta lelaki biasa
Perihasan terindah adalah Istri sholeha
Lelaki Sejati adalah lelaki yang mampu menjadi imam dan memuliakan wanita walau dengan kesederhanaan.
Monggo disimak

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya. Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan. Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu. Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata! Continue reading →

Sebuah Perjalanan dari Titik Nol

Langit mendung pagi ini, cuaca hari ini sangat dingin, seolah dia tak memberikan ijin tuk ku beraktivitas. Namun kemarin aku sudah janji pada dia bahwa esok lusa aku kan berkunjung kerumahnya, berkunjung sebagai tanda aku menepati janji ku tuk membantunya. Di pagi ini ku lawan semua kemalasanku dan alhamdulilah akhirnya samapai juga aku ditempat tujuan. Continue reading →

Menanti dalam Kesunyian

Mentari hinggap diwajahku, saat sepasang kaki melangkah keluar dari kantor itu. Tak terasa sudah pukul empat sore setelah seharian penuh aku keluar masuk kantor mencari pekerjaan. Dengan lelah aku menyeret kakiku pulang mengikuti kata hati yang sudah lelah ingin cepat sampai kerumah. Continue reading →

Kalah Perang

Untuk kesekian kalinya kau tak juga menyadari bahwa ada aku yang selalu disini, selalu setia setiap saat kau butuh. Aku tak pernah menolak apalagi membantah walau aku tak sepaham dengan keinginanmu. Masih seperti hari-hari yang lain aku selalu tak pernah bosan mendengar segala keluh kesahmu. Tentang apa saja yang kau rasakan, tentang masalah pekerjaanmu, keluargamu, perasaaanmu, cintamu, bahkan saat kamu sakit pun aku bersedia mendengar segala keluhanmu dan berada disampingmu. Continue reading →

An Imaginary Admirer

I turned a Radio in front of me, I looked for wave to hear a good music in this night. Suddenly my hand stopped when I heard a song from Evanescence with the song “Bring Me To Life”. The song remembered me for a memory of concert in my campus. At the moment, I remembered my friends that joined with me, like Alias, Raman, and the last… Diko. He is very handsome, cute, kind. His present spread enchantment in my heart.

“Ah Diko!” I didn’t save my heart a long time. If yesterday I met him, maybe to night you could inside me. When I need someone beside me and you will become my own. At the moment I remember again of memory night ago. You sit beside me, looked my face and gave your hand to introduce. I was feeling my heart moved when you hold my hand invite me to dance. In there you were shape me from several of the people. Your give attention and a kindness for my heart y entice day.
Suddenly my imagine was cut off when I heard the telephone rang in the living room, the phone was for me. I felt the happiness that night when I heard Diko voice the sound was soft in my head and left that a scar in my heart. Diko, I love you and I Miss you. His joke, his notice, his story about campus activity, his hobby, etc, that make me falling in love with him. The fact told me that Diko has been full of my transition after Aris hurt my heart. As long we connected by telephone and massage, our relation become closer.
I opened my eyes, when a clock rang over and over. It push me to full fill my promise to meet Diko in campus cafeteria. When we met at the first time. I make some hope I miss for him so much. I was cluster word by word to draw attention and made this meeting more then from the first time. Suddenly Diko come with his friend. Like a thunderclap in day light, when Diko introduce his girl friend. My heart was broken when I heard everything. The meeting was give answer in order to save the imagine hope. ***

By : Dsk

Wajah Keabadian

nature_260

I apologize for everything I did
You just saw the worth of me
I did wrong, sorry

“The worlds forgotten by the world forgot”

I didn’t know whether it’s world or not
And I don’t know what it’s for
I just want to say “sorry Dinda”

“Rafy”

Aku termenung sendiri sambil memandangi kertas putih yang diberikan Rafi lewat Reza. Aku bingung tak tahu maksud isi surat yang ditujukannya padaku.
“Ah masa bodolah, aku tak mau pusing dengan tulisan ini”. Gerutu ku sambil melipat selembar ketas putih itu.
***
Pagi yang cerah, aku pergi kekampus dengan perasaan gembira, semalam Dani datang mengunjungiku membawa setangkai bunga mawar merah yang dirangkai dengan indah.
“Hai friends, dah lama disini!” Sapaku pada ke dua sahabatku Zhara dan Alya.
“Hai Din, tumben datang pagi! Ada angin apa nih datang lebih awal.” Tegur Alya heran.
Ga ada apa-apa ko! kangen saja coz dah lama kita jarang kumpul lagi. Semalam Reza SMS nyuruh aku ke kampus, makanya ku ke sini, sekalian ada yang mau ku curhatin ke kalian.
“Curhat tentang apa? Kalau tentang Dani aku mau dengar, tapi kalau tentang skripsi sorry aku males dengarnya.” Sahut Zhara spontan.
Fren sekarang aku bahagia, salah paham diantara aku dan Dani akhirnya terselesaikan juga. Semalam Dani datang bawa bunga mawar sebagai tanda maafnya. Terus– dia juga jelasin alasan dia jarang ke rumah. Ternyata dia lagi sibuk dengan skripsi Bab IV-nya dan sibuk PPL di sekolah. Tau ga, aku malu baget ketika Dani nanya da sampai Bab berapa skripsimu? Aku jawab jujur masih bab I coz susah cari referensinya. Dani nyuruh aku cepat-cepat menyelesaikan skripsi, supaya bisa wisuda bareng. Katanya sih tar kalau skripsinya dia di ACC, dia mau bantu aku cariin referensi so aku bisa cepet nyelesain skripsiku.
“Sikap Dani ga berubah kan ke elo?” Tanya Zhara
“Ga sih, dia masih seperti dulu.”
“Duh yang gi happy, pantesan dari jauh dah kelihatan bahagianya.” Celoteh Alya sambil memeluk.
“Oh iya, ngomong-ngomong kalian lihat pak Iwan ga di kantor? aku mau bimbingan nih ngejar target!”. Tanyaku pada Zhara dan Alya.
“Mana kita tahu pak Iwan datang engganya, wong kita belum ke kantor ngabsen dosen.” Jawab Zhara sambil bercanda
“Kayanya ga datang deh, soalnya hari ini dia ga ada jadwal ngajar di sini. Jawab Alya.
“Oh iya Din, dah tau belum, kalau hari ini kita mau ke kostan kamu?” Tanya Alya.
“Dengan senang hati Friends, tapi kostanku berantakan tar beresin dulu ya supaya nyaman. Maklumlah aku gi males beres-beres. Eh…tapi anterin aku dulu ya cari pak Iwan soalnya aku males kesini lagi.” Ajak ku dengan senyum.
“Ok dech kita antar, asal entar kamu teraktir kita surabi imut ya.” Sahut Alya.
Pagi itu, lebih cerah dari hari sebelumnya, awan hitam tak lagi mendung menutupi langit. Sinar matahari pagi itu pun terang benderang memberikan kehangatan dan mengawali hari-hari bahagiaku bersama teman-teman, sampai-sampai aku lupa hari ini aku ada janji dengan Dani di Texas BIP (Bandung Indah Plaza)
***
Sore ini, Bandung cerah dari hari sebelumnya, awan hitam dan gemercik hujan tak lagi menbasahi bajuku, kini sinar matahari sore sedikit memberikan kehangatan dalam perjalanan pulang. Di perjalanan menuju rumah kostan, ku panjatkan doa dalam hati semoga aku bisa bahagia seceriah sore ini. Tiba-tiba Rafi datang menghampiriku.
“Din… mau kemana! Sapa Rafi mengagetkanku
“Sory Raf Aku ga lihat, ku kira yang manggil orang lain. Aku mau pulang pusing banget nih kepala! skripsiku harus direvisi lagi. Kamu sendiri ngapain kekampus bukannya semuanya uda ACC, tinggal sidang? Tanya ku lurus.
“Aku pingin kumpul aja ma teman-teman tapi pada ga ada, pada kemana ya?” Sahut Rafi bertanya lagi.
“Pingin ketemu teman-teman atau yayangmu? Tanya ku sambil bercanda.
“Ya dua duanya beleng” jawab Rafi sambil menyubit hidungku.
“Oh ya Din kamu da baca suratku dari Reza? Aku minta maaf atas kejadian waktu itu. Kamu ga marahkan sama aku? Ucap Rafi.
“Wey-wey, ada apa?” Jadi bingung ga ngerti ucapanmu!
“Din jangan pura-pura ga tahu, aku yakin Reza, Zhara, Alya, pasti dah cerita tentang kejadian di club itu. Makanya supaya kamu ga salah paham, aku jelasin di surat itu juga sebagai tanda permohonan maafku.” Ungkap Rafi.
“Memang aku terima suratmu. Raf aku ga ngerti dengan maksud permohonan maafmu. Aku juga ga tahu apa yang telah terjadi di club itu? Kamu tahu sendiri kan aku pulang duluan, soalnya Dani telepon nyuruh aku pulang. Raf kamu minum terlalu banyak ya sampai jekpot?” Tanya ku penasaran.
“Engga ko! Ya udah deh lupain saja. Din aku anterin kamu pulang ya?” Rafi menutup cerita dengan rasa tenang
“Et jangan menutup cerita deh, aku pingin tahu dulu apa yang kalian rahasiakan dari aku? Tanyaku penasaran.
“Ga ko, ga ada apa-apa.” Jawab Rafi singkat.
“Aku tahu kamu bohong Raf, ada yang kamu tutupin dari aku. Terserah aku ga maksa.” Ungkap ku sambil pergi!
Ok..ok..! aku mau cerita asal kamu jangan marah ya. Malam itu aku mabuk berat, tanpa sadar aku memeluk dan mencium Tara dihadapan teman-teman. ungkap Rafi dengan rasa malu.”
“Shit Apa kamu mencium Tara! Ya ampun Raf aku ga nyangka kamu bisa melakukan hal itu dengan Tara. Apalagi melakukan hal itu-nya dihadapan teman-teman. Jangan-jangan selama ini kamu suka ya sama Tara?. Sahut ku kaget mendengar cerita Rafi.”
“Dengerin penjelasan aku dulu Din, aku ga sengaja melakukan itu, lagian Tara sendiri yang pertamanya nyosor memelukku dan terjadilah hal itu secara spontan.” Keluh Rafi.
“Pantesan kemarin Tara ga ikut kumpul dikostanku dan sikap teman-teman juga kemarin pada aneh, ternyata ada yang mereka tutupin. Terus apa hubungannya kamu meminta maaf sama aku? Seharusnya kamu minta maaf sama Tara dan teman-teman.” Sahut ku sedikit jengkel denger cerita Rafi.
“Aku sudah minta maaf sama Tara dan teman-teman. Mereka bilang tak mempermasalahkan hal itu, karena semua itu terjadi diluar kesadaran masing-masing. Tapi Din aku selalu di hantui rasa bersalah, aku takut gara-gara masalah itu mereka menjauhiku terutama kamu, aku tak ingin kamu membenciku, cos dah lama aku suka sama kamu semejak pertama kita bertemu sampai sekarang”. ungkap Rafi jujur.
“Apaaaaa! Kamu suka aku! Sahut aku kaget mendengar perkataan yang keluar dari mulut Rafi. Kamu tau kan selama ini aku menganggap kamu sebagai sahabat saja ga lebih ga kurang, lagian kamu juga dah tahu dan dah kenal kan Dani cowoku, dan aku mohon tolong hargai perasaan ku dan perasaan dia ok. Ya udah lah aku ga mau ngebahas hal ini, anggap saja kamu ga pernah bilang perkataan tadi supaya hubungan kita tetap baik.” Ungkapku dengan tegas.
“Terserah Din sekarang aku sudah lega tak ada rahasia lagi yang mengganjal di hati. Sekarang kamu dah tahu semua tentang perasaanku. Ok kita lupain hal ini. Sekarang aku antar pulang ya ke kostan? Ajak Rafi dengan senyum.
Tanpa banyak kata lagi aku langung berdiri menerima ajakan Rafi pulang.
***
Sungguh gila apa yang dilakukan Rafi dengan Tara. Memalukan! Aku ga nyangka Tara mau di perlakukan seperti itu. kenapa dia mau di peluk dan dicium Rafi, padahal mereka berdua sohiban, malah mereka sering curhat masalah pacar masing-masing. Gimana kalau Nazar dan Santi tahu perbuatam mereka? Pastilah mereka bubaran. Coba kalau ada aku disana, aku kan tegur mereka berdua supaya ga terjadi. Aku tahu teman-teman ga bakalan berani menegur perbuatan Rafi dan Tara, soalnya bagi mereka masalah cium peluk sudah dianggap bisa, bukan hal yang tabu lagi dalam pacaran ataupun TTM-an. Bahkan jangankan cium peluk lebih dari itu pun mereka menganggapnya biasa, yang penting suka sama suka mereka berani mencoba asal jangan sampai hamil. Tapi menurutku disanalah kebodohan mereka yang selalu mencontoh gaya hidup barat yang bertentangan dengan agama kita. Padahal seharusnya mereka jadikan contoh kehidupan teman kita yang kuliahnya hancur gara-gara pergaulan bebas, yang akhirnya mereka menjadi ayam kampus simpanan om-om. Contoh yang lebih dekatnya saja Linda sahabat kita sendiri karena pacaran terlalu bebas, akhirnya keperawanannya hilang di renggut pacar pertamanya yang agamanya non muslim juga seorang playboy yang tak bertanggung jawab. Karena sudah terlanjur jatuh, bodohnya Linda melakukan kesalahan yang sama demi mendapatkan kepuasan biologisnya. Dia sering berhubungan intim dengan laki-laki yang di jadi kan teman kencannya, sampai-sampai dia hamil tanpa di ketahui siapa bapaknya. Karena janinnya terlalu kuat untuk digugurkan, akhirnya dia minta pertanggung jawaban sama pacar terakhirnya untuk dinikahi. Setelah tiga bualan usia pernikahannya, rumah tangganya jadi berantakan karena suami dan mertuanya meragukan anak yang dikandungnya. Dengan terpaksa Linda harus berhenti kuliah dan harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri.
Oh mungkin mereka lupa apa yang sering Linda nasehatin pada kita bahwa kita jangan sampai mencontoh perbuatannya. Entahlah aku tak tahu meski gimana, percuma aku kasih nasehat juga yang ada mereka nganggap aku cerewet. Aku tak mau pusing dengan urusan mereka! Aku dah cukup pusing dengan skripsiku. Gerutu ku mengumbal sendiri dikamar.
****
Sore yang cerah akhirnya memaksa ku pergi ke toko buku yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada laki-laki yang sedang menyelusuri rak-rak buku sambil membawa buku Khalil Gibran di tangan kirinya. Dani …! Tumben dia jalan sendirian ga ngajak aku! Ups siapa perempuan yang mengajak Dani pergi keluar sambil menggandeng tangan Dani dengan mesra. Ya Tuhan siapa perempuan yang bersama Dani? Keluhku bertanya-tanya. Ku ikuti langkah Dani sampai mereka keluar dari Plaza dan naik kendaraan. Gara-gara mengikuti Dani aku hampir lupa dengan tujuanku.
Ya Tuhan… siapakah perempuan itu? Aku penasaran! Baru kali ini aku melihat Dani jalan berdua begitu mesra bersama perempuan itu. Selama empat tahun aku berpacaran dengannya, belum pernah aku jalan dengannya semesra itu.
Ya Tuhan apakah Dani seperti itu sifatnya? Selama ini aku mengenal Dani sebagai sosok laki-laki yang memiliki sifat dan prilaku baik, pintar, perhatian, taat beragama pokonya seorang pigur dambaan yang selalu membimbingku ke jalan benar. Namun hari ini aku melihat Dani berbeda dengan sifat yang kukenal selama ini. Oh Tuhan berikan petunjukmu supaya aku bisa tahu kebenarannya.
Seperti petir menyambar bumi ketika ku mendengar kabar bahwa Dani akan menikah dengan Silvi teman satu jurusannya karena dia harus bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukannya pada Silvi. Hancur seketika semua mimpi dan harapanku. Dengan perasaan sedih aku langsung menghampiri teman-teman yang sedang kumpul dikosan Tara. Kuungkapkan semu perasaanku, kekecewaanku dan kesedihanku pada mereka.
“Aku tak pernah menyangka Dani tega menghianati kamu, sosok pria baik dan alim bisa juga melakukan perbatan sebejat itu, kurang ajar dasar kucing! Awas saja kalau ketemu aku tempeleng mukanya.” Keluh Tara kesal.
“Sudahlah Tara jangan ngoceh terus bikin Dinda tambah sedih saja.” Sahut Alya.
“Din sabar ya, jangan menangis terus dong sayang, kamu ga sendirian disini, masih ada kita-kita yang selalu setia mengiringi jalanmu. Anggap aja mungkin ini cobaan dari Tuhan buat kamu, bahwa kamu dipertemukan dulu dengan orang yang salah sebelum kamu bertemu dengan jodohmu. Malah kamu harusnya bersukur karena kamu tidak dirugikan apapun selama berpacaran dengan dia, kamu cuma rugi perasaan saja yang sudah sayang banget, tapi tar juga lambat laun semuai ini akan hilang kalau bertemu dengan laki-laki yang lebih baik dari Dani. Anggap saja kebersamaan kamu dengan Dani adalah mimpi dalam tidur malammu.” ungkap Alya sambi menghapus air mata dan memelukku.
“Ya udah gimana kalau kita hibur Dinda dengan musik R&B Hip Hop seperti di dugem,” Sahut Tara sambil mengklik winamp lagu ‘Dance with me’ miliknya Rishi Rich Project sambil menarik tanganku tuk menari.
Ada sedikit ketenangan dan keceriahan setelah mencurahkan semua kepedihan pada teman-teman. Trimakasih teman sedikitnya aku bisa bahagia dan melupakan masalah ini ketika bersama kalian.
***
Sore ini, langit lebih cerah dari hari sebelumnya. Awan hitam tak lagi menutupi langit. Sore ini matahari memberikan sedikit hangat taman kampus. Namun kesedihanku tak beranjak semenjak Dani menghianatiku. Seluruh isi kamar yang sudah menjadi bagian dalam hidupku kini tak lagi mampu menekan gelisahku yang terus memikirkan Dani. Aku beranjak menuju taman kampus tempat aku dan teman-teman nongkrong, aku diam sendiri merasakan kedamaian ditempat ini seperti aku menikmati ketenangan lakuku. Tiba-tiba Rafi datang menghampiriku,
“Sedang apa Din duduk sendirian? Tanya Rafi mengagetkanku yang sedang melamun.
“Engga apa-apa! Cuma ingin menikmati keindahan taman saja. Kamu sendiri gi ngapain, tumben belum pulang?
“Kelihatannya kamu lagi punya masalah, sudahlah jangan bohong Din, aku tahu ada yang kamu tutupin dari aku, aku bisa merasakan ada kesedihan dimatamu, Din ceritakan padaku kali aja aku bisa meringankan bebanmu.” Ungkap Rafi sambil menatap mataku.
“Raf aku gi patah hati, ternyata Dani yang kukenal selama ini tega menghianatiku. Hari ini dia bersanding dipelaminan dengan perempuan yang telah merebutnya dariku. Raf aku ga bisa terima penghianatan ini, tapi aku ga bisa berbuat apa-apa, karena aku tahu dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Raf aku tak bisa hidup tanpa dia, aku mencintainya. Berat rasanya harus melupakan semua kenangan bersamanya..
“Tenanglah Din, aku tahu ini sangat menyakitkan, tapi kamu ga bisa hidup seperti ini. Lihatlah kedepan perjalananmu masih panjang, Jangan sampai gara-gara Dani kamu patah semangat. Saranku sekarang lupakan Dani relakan dia pergi karena mungkin dia bukan jodohmu. Mulailah membuka lembaran baru dengan orang lain supaya kamu bisa melupakannya dan hidupmu bahagia seperti kemarin. Sudahlah jangan menangis, sia-sia kamu menangisi Dani yang sedang bahagia di pelaminan. Mendingan kamu selesaikan skripsimu supaya kita bisa sidang bareng minggu depan. Ungkap Rafi sambil menghapus air mata yang membasahi pipiku.
“Thanks ya Raf kamu memang sobatku yang paling baik dan mengerti aku. Jawabku singkat.
“Ga apa-apa,ya da kita pulang yu dah jam lima sore, ni pake helmnya, aku antar pulang ya.” Ajak Rafi.
***
Satu jam berlalu, tiba-tiba aku tersentak kaget mendengar kabar tentang meninggalnya Rafi akibat kecelakaan tadi sore. Awalnya aku tak percaya semuanya seperti badai yang menghancurkan batu karang ketika teman-teman meyakinkanku. Badanku lemas dan jantungku serasa berhenti, spontan air mata jatuh membasahi pipiku dan tangis harupun menghiasi penyesalanku. Dalam suasana duka kuberanikan diri untuk pergi kerumahnya melihat jenazah Rafi yang terakhir kalinya.
Tak pernah terpikir sebelumnya pertemuan sore itu adalah pertemuan terakhir bagi aku dan Rafi. Malam ini adalah malam yang menyakitkan bagiku, aku harus kehilangan sahabatku Rafi. Aku menangis histeris ketika melihat Rafi terbaring ditutupi kain kapan. “Raf jangan tinggalkan aku!”
***
Morning girl g ngapain? BTW da kekampus belom ACC skripsi? Oh ya hr ini aku & tmn2 mo kekampus jam 09.00, mo kesana ga? ku tunggu di kampus ya… Miz U fren.
Pengirim:
Alya
0818615079
“Mana ya teman-teman katanya mau kekampus tapi dah jam 10.00 lebih belum nongol juga dasar jam karet.”
Sambil menunggu teman-teman datang ku hampiri adik kelasku yang sedang membaca karya tulis di madding dengan serius. Aku tersentak kaget ketika ku melihat sebuah karya tulis puisi yang tertempel di mading sepertinya ku mengenali tulisannya. Dan ku mulai membacanya

– I Still –
I still Miss You..But not like I did before.
The intense aching I felt, Isn’t there anymore.
I still whisper your name… Not as often as I used to.
Now it may be once, Before the day is through.
I still hear your voice.. Replaying, in my mind.
But it’s fading now, Soon, silence I will find.
I still long for you.. To feel your touch.
But, it’s not like before; I don’t dream it as much.
I still think about you… And wonder how you are.
But my feelings have changed, And they don’t go as far.
I still feel you sometimes… Maybe you’re thinking of me?
Or maybe it’s just a little memory, of how it used to be.
I still love you… But it’s just not as strong.
Because I’m letting you go now, so we can both move on.
You still have a piece of my heart… Cause I always felt you here.
Now, I’m hoping and praying, That, that too, will quickly disappear.
This will be my last goodbye… I’ve nothing else to say.
Everything I felt for you, Can now just fade away.

To Dinda Delia
From Secret admire.

Oh iya, ini tulisan tangan Rafi, tulisan ini sama dengan tulisan permohonan maafnya yang pernah dia titipkan lewa Reza.
“Maafkan aku Raf aku banyak menyakitimu dan menyia-nyiakan kebaiakanmu. Pengorbananmu untuk ku begitu besar. Sekarang aku sadar bahwa cintamulah yang sebenarnya abadi untukku bukan Dani. Andai kau masih hidup aku akan balas semua cinta dan sayangmu dan aku bersedia menjadi kekasih sejatimu.
***

%d blogger menyukai ini: