Catatan Hening

Catatan Hening Sendiri Syfa duduk termenung diantara deretan tiga kursi kosong yang hanya ditemani segelas mocafloat yang es creamnya sudah meleleh karena dari tadi dibiarkannya mencair. Tak biasanya seraut wajah cantik dan periang itu dilanda kegalauan seorang diri. Sore itu langit berwarna kelabu yang menandakan akan turun hujan, namun dia masih asik dengan lamunanya yang entah apa yang sedang dipikirkanya. Beberapa lagu sendu yang di putar di cafe itu silih berganti seolah dia betah bertahan dan hanyut dalam alunan lagu. Lanjutkan membaca

Bahagia

Pagi itu matahari belum muncul namun sosok lelaki itu sudah mulai mempersiapkan barang barang yang akan di bawa untuk pergi. Hari yang sudah lama dia tunggu hari libur yang merupakan hari paling bahagia baginya, Karena di hari libur dia bisa menghabiskan waktu berkumpul bersama ketiga anaknya. Namun berbeda dengan pagi ini, pagi ini pagi yg spesial baginya. Karena di pagi ini dia bisa menikmati liburan tidak hanya dengan ke tiga anaknya tapi jg dengan istrinya dalam acara tour ke dunia pantasi. Dengan senyum bahagia dan semangat dia mereka berangkat menuju Dupan.  Tempat yang sudah sangat lama tak pernah dia kunjungi lagi.
Ada satu moment ketika dia menaiki salah satu arena permainan ontang anting, tib-tiba dia teringat sosok istrinya yg sudah meninggal. Tempat ini dulu pernah jadi saksi tetika cinta terucap pertama kali.
Kini tempat ini dia kunjungi lagi saat bersama ke tiga anaknya n istri barunya.
Banyak kenangan2 melintas d benaknya namun dia hanya diam sejenak kemudian memudar lagi ketika anaknya memanggil memintanya menemani setiap permainan.
Ada kebahagiaan yg sebelumnya tak pernah di bayangkan. Saat istirahat makan tiba2 kupon doorprise yg dia ambil membawa keberuntungan. Dia mendapatkan sepeda motor dan istrinya mendapatkan sebuah lemari es.
Kini kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya saat dia pulang.
Daham sujudnya dia berkata”Tuhan terimakasih atas nikmat yang kau berikan padaku hari ini”

image

Seperti Mati Kurasa

Seperti Mati Kurasa

Keramaian ini benar-benar membuat dadaku sesak! Aku hanya bisa mengamati sekelilingku! Sementara tubuhku tak mampu kugerakkan!

Aw…..! Kutolehkan kepalaku ke arah kanan dan kau ingin tahu apa yang terjadi?!
Aku melihat sebuah pengorbanan seseorang yang mengejar cinta sejati, sebuah pemandangan indah tapi mengerikan untuk hatiku, dan aku hanya bisa diam membisu dan terpaku seperti sebuah paku yang ditancapkan sangat dalam! Dalam sekali, hingga ku tak sanggup bernapas!

Aw…..! Apa ini? Hatiku seperti tersayat sembilu. Keindahan pemandangan itu bagaikan pisau yang menusuk jantungku yang selalu terkoyak dalam. Seribu satu pisau yang terus menusukku setiap hari tanpa dia sadari. Aku hancur. Ternyata kata-katamu tak bisa kudefinisikan dengan kamusku.

Klik!
“Aku mengenalnya” teriakku dalam hati. Dia yang selama ini bersamaku, ternyata dia tidak pernah tahu seberapa besar pengorbananku untuk membuatnya bahagia.
Ku berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari bayangannya. Aku tak mau terkurung dalam imajinasinya. Aku tak mau mengikuti kemana dia pergi. Aku tak mau ikut menciptakan jejak langkahnya. Kucoba dan kucoba lagi untuk lepas dari bayanganya indah yang sangat mengagumkan namun membuatku sesak nafas.

“Aw……..!” Aku berteriak sekeras-kerasnya.
Dengan tak terduga akhirnya aku lepas dari bayangannya, walau tubuhku terhempas ke tempat yang kontras dengan yang semula. Gelap tak kulihat lentera atau kunang-kunang mengiringi jalanku. Hanya terdengar senandung kidung sunyi yang tak karuan dari sudut jalan sana. Dengan penasaran kakiku melangkah kesana. Ku lihat batinku berkata: “Aku kecewa, terluka tapi aku hanya bisa menelan ludah”. Kusadari tubuhku dikerumuni ulat-ulat menjijikkan!. Dan kubiarkan ulat-ulat itu menggerogoti tubuhku yang kadang sesekali aku mengusir ulat-ulat itu sambil berkata aku tak rela!

Klik!
Kusentuh lagi bayangannya, akan tetapi kali ini aku seperti seseorang yang ingin menangkap angin. Tidak ku lihat tanda-tanda kehadiranmu. Hanya terdengar suara tangis dari kejauhan.
“Dia telah pergi, dia telah pergi,” hatiku berulang mengatakan itu.
Aku menyadari semua itu. Ya, aku bisa menyadari ini.
Tidak! Aku sama sekali tidak bisa menyadari apa yang terjadi selama ini sebenarnya. Tidak. Aku menyadarinya. Air mataku semakin deras jatuh tanpa ujung. Air mata ini tidak punya tempat mendarat meski kucoba menyediakan tempat mendarat. Telapak tanganku pun ditembusnya ****

By: DSK (www.desudjia.wordpress.com) Lanjutkan membaca

Celoteh Tentang Mu

celoteh tentangmu

Aku terbangun dibawah sayap-sayap hening malam, sementara harapan lenyap terkubur seiring waktu. Malam ini aku merasakan kesepian dalam seribu rindu yang mendalam. Merindukan sang jiwa tak pernah muncul lagi dihadapan wajah hidup, dan waktupun berjalan memenuhi ruang kembaraku dan kini aku berada dalam dekapan keheningan yang mencekam. Dan akhirnya kutemukan diriku bagai debu yang siap diterbangkan oleh napas angin.

Waktu berlalu seperti hantu malam, namun malam ini aku tak bisa menutup mataku. Anganku masih menerawang pada satu kenangan indah yang kenyataannya basah oleh air mata. Sebuah kenangan tentang separuh jiwaku yang pergi dan takan kembali. Kuambil leptop dan kumulai mencurahkan isi hati diiringi tangis yang tak bisa ku bendung lagi.

Duhai jiwa yang telah menguasai misteri ini, aku datang menyerahkan napas kerinduan, ketika hati sesak, mata mulai pedih dan dadaku serasa mau meledak. Lewat tulisan ini aku kembali mencurahkan perasaanku, ketika luka batin semakin mengiris sementara tubuhku tak bisa berbuat apa-apa terhadapnya.

Duhai jiwa yang pernah mewarnai perjalananku, aku merindukanmu, rindu akan kebersamaan, canda tawa, tangis bahagia dan kehangatanmu yang selalu berada di sampingku. Dimanakah kau berada sang jiwa yang selalu membuatku tersenyum bahagia. Sang Jiwa yang membuatku nyaman berada disampingnya, sang Jiwa yang membuatku kuat bertahan dan bersabar menghadapi kerasnya perjalanan kehidupan. Sang Jiwa yang tulus mencintaiku dan rela mati untukku.

Duhai Jiwa yang mengiringi pengembaraanku dalam kejauhan, aku tak tahu rahasia esok dan aku juga tak tahu kemana, kapan akan kutemukan lagi sosok jiwa yang bisa memberikuketulusan atas nama cinta lagi. Sementara aku kehilangan harapan dan impian. Kemana lagi aku harus berjalan agar ku bisa menemukan kesejatian atas kehendak Mu?

Duhai jiwa, disini aku merindukanmu, mendamba dan mengharapkan kehadiranmu seperti dulu, seperti yang telah ku yakini dalam hati, sebuah cinta yang tidak bisa kuungkap lewat kata namun tersimpan kesejatian sesungguhnya yaitu hanya padamu belahan jiwaku. Sebuah cinta yang telah melahirkan banyak hal, yang menciptakan pertemuan yang singkat namun penuh warna, yang kini melahirkan kerinduanku dalam kesepian, kesedihan, kepedihan, kehampaan yang tersimpan dalam jiwaku. Sampai akhirnya terbesit pertanyaan dalam hati.

“Apakah kau sama merasakan seperti apa yang kurasakan saat ini ?”

“Apakah harus kutinggalkan setumpuk kenangan tentang dirimu?”

Duhai jiwaku, aku merasakan kesepian dan kehampaan seperti ini. Sampai akhirnya tertinggal satu kalimat “ cintamu adalah anugrah yang pernah ku miliki, walaupun semua berjalan serba singkat.

Tak terasa malam berganti pagi bersama tetesan embun dan sang mentari yang menyinari kamarku. Aku disini masih duduk terpaku dalam keterjagaanku. Aku dapat merasakan seraut wajah lenyap bersama terbitnya matahari. Dan akhirnya aku menyerah pada tidurku, berharap aku bisa bertemu dalam mimpi.***

 

 

 

Sukabumi, Juni 2013

Cinta Sejati Lelaki Biasa

cinta lelaki biasa
Perihasan terindah adalah Istri sholeha
Lelaki Sejati adalah lelaki yang mampu menjadi imam dan memuliakan wanita walau dengan kesederhanaan.
Monggo disimak

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya. Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan. Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu. Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata! Lanjutkan membaca

Sebuah Perjalanan dari Titik Nol

Langit mendung pagi ini, cuaca hari ini sangat dingin, seolah dia tak memberikan ijin tuk ku beraktivitas. Namun kemarin aku sudah janji pada dia bahwa esok lusa aku kan berkunjung kerumahnya, berkunjung sebagai tanda aku menepati janji ku tuk membantunya. Di pagi ini ku lawan semua kemalasanku dan alhamdulilah akhirnya samapai juga aku ditempat tujuan. Lanjutkan membaca

Menanti dalam Kesunyian

Mentari hinggap diwajahku, saat sepasang kaki melangkah keluar dari kantor itu. Tak terasa sudah pukul empat sore setelah seharian penuh aku keluar masuk kantor mencari pekerjaan. Dengan lelah aku menyeret kakiku pulang mengikuti kata hati yang sudah lelah ingin cepat sampai kerumah. Lanjutkan membaca